Selamat jalan Bro! Itu adalah kalimat singkat yang terucap di hati saya pagi ini, ucapan yang sangat menyedihkan perasaan. Kalimat itu saya tujukan untuk seorang kawan, lebih tepatnya saudara. Dia telah pergi untuk selama-lamanya. Tapi yang lebih benar adalah, dia telah mencapai stasiun terakhir perjalanan manusia. Inilah berita duka yang paling memberatkan pagi ini. 

Bro adalah panggilan terbaik Aswar untuk semua kawan-kawannya. Tanpa namapun, atau jika pengirimnya tidak ketahuan identitasnya dari sms yang masuk ke telepon saya, saya pasti tahu bahwa sms itu dari Aswar. Mengapa? Karena dia selalu memanggil Bro.

Hari ini istri saya menelpon tepat ketika saya baru saja duduk di kantor. Katanya, Pak Amir dari Bontang menelpon dia menyampaikan kabar: Aswar di Libya meninggal. Tentu saja saya kaget, dan terus terang tidak percaya. Saya menelpon Pak Amir, tidak diangkat. Lalu saya membuka email, dan ternyata disana sudah ada pesan dari Pak Sriyono, salah seorang alumni SBM yang sekarang bekerja di Aceh. Begini emailnya:

"Turut berduka cita atas meninggalnya TEMAN BAIK DAN SAUDARAKU MUHAMMAD ASWAR, semoga arwahnya diterima dan mendapatkan tempat disisiNya, anak dan istrinya diberikan kekuatan. Amin. Kabar ini saya dapatkan dari Nas Made tgl 10.03.09 jam 5.25 pagi waktu KL." Saya sekali lagi masih belum yakin.

Saya kemudian menelpon Basyar di Maros. Dari informasi beliau, keluarga Aswar sudah mengklarifikasi bahwa Aswar memang sudah meninggal di Libya. Dengan konfirmasi ini, saya kemudian baru percaya. Menurut keluarganya, Aswar meninggal kemungkinan karena serangan jantung. Ternyata, ketika beliau sakit saat Idul Fitri 2007 yang lalu, dokter sudah menyampaikan diagnosa bahwa Aswar menderita penyakit jantung koroner. Saya kemudian menduga, Aswar kelelahan, apalagi dia dan teman-teman lain sedang mengerjakan projek yang berkejaran dengan waktu.

Saya mengenal Aswar pada tahun 1991 ketika kami satu kelas di SMA BPG di Makassar. Beliau adalah utusan SMA 5 Mks dan saya mewakili SMA 1 Polewali waktu itu. Selama setahun kami duduk di kelas A, bersama dengan anak-anak utusan dari SMA lainnya di Sulawesi Selatan. Saya tentu saja tidak akan melupakan kenakalan kami bersama, kenakalan anak-anak remaja yang indah. (Saya tak tahan mengingat kenangan-kenangan ini di pagi ini....)

Tahun 1992, kami kembali bersama-sama di teknik elektro Unhas. Kebetulan, kami mengambil sub program study yang sama pula: teknik tenaga listrik yang kemudian menjadi teknik energi. Kami lulus di tahun 1997, tetapi beliau lulus di September dan saya lulus di akhir tahun.

Dan sepertinya sudah dijodohkan, kami kemudian bersama lagi di PT Semen Bosowa Maros ketika saya bergabung tahun 1998. Aswar sudah masuk duluan waktu itu, sejak akhir tahun 1997. Dan sekali lagi kami harus bersama-sama saat saya diikutkan di groupnya Aswar untuk menangani Electrical System di perusahaan semen yang baru dibangun itu. Pertama-tama kami hanya berlima: Aswar sendiri, saya, Anas Baso (yang kemudian magang di Freeport dan sekarang bekerja di Jakarta), Rizal (yang pindah ke Newmont NT tahun 199 dan juga meninggal disana), dan Tedy (yang sudah pindah ke Lafarge di Aceh). Belakangan, group electrical itu semakin bertambah, terutama ketika sudah bergabung di maintenance department.

Saat kami tinggal di perumahan SBM di Batunapara, yang mendekatkan saya dengan Aswar, untuk kesekian kali, adalah bahwa rumah kami ternyata juga berdampingan. Pada saat itulah, jika tidak sedang bekerja, misalnya pulang kerja atau hari libur dan malas ke Makassar, kami biasa tukaran kaset atau kumpul di kamarnya sambil memutar musik keras-keras. Dalam banyak hal, selera musik kami ternyata sama. Yang paling saya ingat, kami akan merasa menang jika salah seorang di antara kami lebih duluan memiliki kaset terbarunya Kla Project.

Saya kemudian “berpisah” dengan Aswar setelah saya meninggalkan PT SBM dan pindah ke Freeport di Tembagapura. Mulai saat itu, kami hanya silaturrahmi melalui email dan milis elektro Unhas angkatan 92. Namun, jika saya cuti ke Makassar, kami biasanya mengusahakan saling bertemu muka.

Saya terakhir ketemu Aswar tanggal 7 Desember 2007 di Batam. Kami makan malam di Harbour Bay malam itu, makan malam yang dihentikan oleh hujan deras. Saat itu beliau sedang bertugas untuk membantu penyelesaian proyek SBM di Batam, sementara saya mengikuti sebuah training yang diadakan disana. Beliau, dalam pandangan saya, pisiknya sangat segar bugar, malah perutnya kelihatan lebih besar dibanding dulu sehingga kami sempat ejek-ejekan. Tapi ternyata, itu adalah pertemuan terakhir.

Aswar adalah teman yang baik, lurus, senang membantu, pekerja keras, humoris, dan yang paling penting: tidak sombong. Semua syarat menjadi teman, minimal buat saya, Aswar miliki. Satu hal yang mungkin pernah menyebabkan beliau sedikit jengkel sama saya adalah, ketika saya memalsukan tanda tangan beliau di laporan mata kuliah Praktikum IV. Aswar adalah koordinator praktikum tersebut pada waktu itu. Tetapi setelah sedikit marah-marah, dia kemudian mentertawakan saya, “dasar pemalas!” katanya. Yang sangat menyedihkan sekarang adalah, teman yang sangat baik ini pergi terlalu cepat .

Selamat jalan Bro. Kami pasti menyusul. Kepergianmu sekali lagi memberikan pelajaran buat kami. Mudah-mudahan saja kami bisa serius untuk memetik hikmah. Semoga Allah menjemputnya dengan baik. Dan maafkan kami jika masih ada tersisa kesalahan kepadamu sebelum kepergianmu.


Di rumah saya, ada sebuah miniatur menara Eiffel. Miniatur itu adalah pemberian Aswar ketika dia pulang bertugas dari Swiss dulu. Kami akan selalu menyimpannya. Dan kami akan selalu bersamanya.