Zuhud 09/20/2008
 

Seorang teman meninggalkan pekerjaannya di kantor kejaksaan. Dia mengaku menerima banyak godaan. Setelah tiga tahun bertahan, dia mengambil keputusan terakhir. Karena takut kepada godaan “dunia” yang begitu gencar dan setiap hari berusaha menjebaknya, dia akhirnya memilih jadi pedagang. Sekarang dia menjadi seorang penjual sembako yang memiliki banyak pelanggan. Dia sudah menjadi orang “kaya,” bahkan mungkin lebih cepat kaya dibandingkan jika seandainya dia masih melakoni pekerjaannya yang pertama. Tapi jika bertemu dengannya di jalan, tidak ada yang akan mengenal bahwa dia adalah seorang pedagang yang sukses. Dia memilih kesederhanaan yang terlihat dari tutur sopannya, wajahnya yang selalu cerah, belas kasihnya kepada siapa saja terutama anak-anak dan orang miskin, dan terutama penampakannya.

Teman itu memilih zuhud. Dia sudah menjadikan zuhud sebagai pola hidup. Dia selalu berbahagia, seperti yang disampaikan oleh Sayyidina ‘Ali mengenai pilihannya, “jika kalian memilih hidup zuhud, kalian akan dibebaskan dari penderitaan dunia dan memperoleh kebahagiaan di kampung yang kekal.”

Namun, ada sedikit kesalahpahaman. Seorang teman yang lain memilih meninggalkan kuliahnya di Fakultas Hukum karena ingin berbuat untuk Tuhan. Dia menganggap belajar ilmu hukum di Unhas adalah urusan dunia sementara dunia harus ditinggalkan. Kedua orang tuanya, saudara-saudara, dan seluruh teman-temannya, tentu saja kecuali yang sependapat dengannya, merasakan kekecewaan yang dalam. Karena ingin mengerjakan amalan-amalan ukhrawi, teman ini sudah mengecewakan semua orang-orang dekatnya.

Dalam pesan Rasulullah Saw, beliau mendefenisikan zuhud dengan jelas. Beliau Saw bersabda, “Zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal dan bukan pula menyia-nyiakan harta, tetapi memilih zuhud di dunia ini adalah engkau tidak memandang apa yang ada di tanganmu itu lebih diandalkan daripada apa yang ada di sisi Allah.” Dalam bahasa yang lain, zuhud bukanlah melepaskan diri dari dunia, tetapi tidak meletakkan hati padanya. Zuhud bukan berarti meninggalkan apalagi mengharamkan kenikmatan duniawi, tetapi menganggapnya tidak hakiki dan hanya menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kita boleh memilih pekerjaan apa saja, memiliki harta yang banyak, dan mencintai keluarga. Yang perlu ditekankan disini adalah kita bekerja untuk apa, harta akan dibelanjakan kemana, dan mencintai keluarga karena kecintaan kepada Allah. Pertama sekali saya bekerja di sebuah perusahaan, saya sering berpapasan dengan seseorang yang sangat tawadhu’, dia selalu terlihat datang pertama di mesjid untuk shalat waktu, pakaiannya juga sangat standar. Saya kemudian malu sekaligus menangis ketika beberapa minggu kemudian seorang teman memperkenalkan bahwa orang itu adalah seorang vice president.

 Jadi seorang zahid adalah seseorang yang menggunakan dunia sebagai tempat untuk menyempurnakan spiritualitasnya. Dia menolak “dunia yang terkutuk,” tetapi dunia dalam pandangannya adalah segala sesuatu yang memalingkannya dari Allah. Baginya, urusan dunia dan akhirat adalah sama, sekatnya hanya sejauh mana urusan itu membawanya lebih dekat kepada Allah. Bahkan, jika ada urusan akhirat yang ujungnya juga hedonis, yang meninggalkan kenikmatan duniawi untuk menukarnya dengan kenikmatan surga, maka surga dalam pandangannya juga menjadi dunia.

 

 
Sabar 09/20/2008
 

Sabar adalah kata yang paling sering kita dengar, khususnya ketika mendengar nasehat-nasehat. Ketika menghadapi kepahitan hidup, kita diminta bersabar. Saat terjadi bencana, disamping diberi pemahaman bahwa musibah adalah karena akibat dosa-dosa kita, kita juga disuruh bersabar. Masyarakat yang miskin, yang kemiskinannya adalah karena perbuatan orang lain, disuruh bersabar menghadapi cobaan dan takdir. Dan bangsa-bangsa tertindas, selain diminta untuk tidak melakukan protes terhadap penindasan itu, mereka diajarkan untuk bersabar dan bahwa kesabaran mereka nanti akan diganjar dengan kebahagiaan yang lebih tinggi di dalam surga. Yang lebih buruk, jika kita ditempeleng di pipi kiri, kita diminta bersabar dengan memberikan pipi kanan.

Walhasil wujud sikap sabar adalah diam, tidak ada protes, "kepasrahan," tenang, tanpa suara, tanpa perlawanan, atau mungkin masokis. Orang yang sabar adalah orang bisa menikmati penderitaan. Dan tema kesabaran menjadi wacana yang paling disukai oleh penguasa dan tiran.

Tapi itukah kesabaran yang diajarkan Tuhan? Di dalam ajaran kitab suci dan agama samawi, Tuhan tidak pernah merestui penindasan, bahwa sikap diam terhadap penindasan adalah sebuah persekongkolan dengan penindasan itu sendiri. Rasulullah Saw juga pernah mengatakan bahwa marahlah jika tiba masanya. Bahkan agama ditegakkan di atas kecintaan dan kebencian, bahwa kita wajib mencintai dan membenci karena Allah.

Kesabaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh 'Ali Khamenei, adalah ketahanan seseorang melawan kejahatan, kezaliman, dan kerusakan dalam perjalanan menuju kesempurnaan. Memilih sabar adalah perjuangan memperkokoh karakter-karakter mulia sebagai manusia. Tidak heran sampai Tuhan mengajarkan agar manusia meminta tolong kepadaNya dengan sabar dan shalat. Sepintas, Tuhan menempatkan sabar di atas shalat, tetapi simpulan sederhana bisa diambil bahwa sabar dan shalat punya porsi yang sama dalam penjalanan menuju Tuhan.

Sabar tidak boleh dimaknai sebagai sikap diam dan tanpa protes. Sabar adalah sikap aktif dalam melakukan aktifitas, koreksi kritis terhadap penyimpangan, kemarahan dan kebencian pada tempatnya. Siapapun yang melakukan demonstrasi terhadap penyimpangan penyelenggaraan negara ataupun mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak memihak masyarakat miskin, adalah bentuk kesabaran. Abu Dzar, yang menggadaikan hidupnya untuk mengkritik pemerintah, adalah bentuk kesabaran yang tinggi.

Menurut para ulama, kesabaran ada beberapa tingkatan. Kesabaran yang paling elementer adalah komitmen untuk meninggalkan sikap buruk dan prilaku zalim. Yang kedua, kita juga harus sabar untuk melakukan kebaikan. Yang ketiga, perlu kesabaran untuk istiqamah dalam melakukan kesabaran pertama dan kedua. Ketika seseorang marah karena dia dizalimi oleh orang lain namun memilih memaafkan secara benar, itulah kesabaran tertinggi.

Kembali kepada defenisi awal di atas, kesabaran adalah komitmen untuk menyempurna terus menerus. Oleh karena itu, sejatinya bukan kita yang diminta bersabar, tetapi kitalah yang membutuhkan kesabaran. Pada derajat tertentu, sabar bukan hanya sebuah sikap belaka, tetapi ia adalah sebuah modus menjadi.

 
Kemiskinan 09/20/2008
 

Kemiskinan hampir seumur dengan sejarah manusia, tepatnya sejarah penjajahan terhadap kelompok manusia tertentu. Sedihnya, kemiskinan telah melahirkan berbagai penyakit sosial yang membuat kondisi sosial semakin akut. Bahkan dalam keadaan terburuk, kemiskinan menjual fitrah manusia. Itulah karenanya Rasulullah Saw mengatakan, "kemiskinan dekat kepada kekafiran" dan Sayyidina 'Ali menegaskan bahwa "seandainya kemiskinan adalah seseorang, maka saya akan membunuhnya."

Teori kemiskinan sebagai reaksi terhadap kondisi masyarakat muncul belakangan. Saat ini, kita mengenal kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural. Yang pertama mempercayai bahwa kemiskinan adalah akibat struktur masyarakat, dan yang kedua meyakini bahwa kemiskinan juga menyangkut kebudayaan. Kedua mazhab ini mempercayai bahwa kemiskinan adalah akibat ulah masyarakat sendiri. Mungkin harus dijelaskan seberapa jauh peran masyarakat yang dimaksud dan kelompok masyarakat mana yang melanggengkan kemiskinan itu, tetapi kita tidak sedang membahas masalah itu.

Mungkin ada mazhab yang ketiga, kami menyebutnya kemiskinan teologis. Dari dulu, ada sekelompok orang yang mengajarkan atas nama agama, bahwa orang miskin lebih dicintai oleh Allah Swt. Karena mengikuti ajaran ini, banyak orang yang memilih miskin dan menganggap kemiskinan sebagai pilihan yang terbaik dengan harapan menjadi orang kaya di surga nanti.

Kelompok penindas mendukung teori ini. Dengan segala perangkatnya, mereka melanggengkan struktur sosial dan pemahaman kultural bahwa kemiskinan adalah takdir yang tidak bisa dirubah, bahwa kemiskinan adalah given. Sesungguhnya, kelompok sosial inilah yang menjadi penyebab kemiskinan, bukan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam struktur masyarakat modern, kelompok yang paling bertanggung jawab terhadap struktur sosial adalah pemerintah. Walaupun Rasulullah Saw tidak mencontohkannya secara formal, ajaran Islam menegaskan distribusi sumber daya yang adil. Agama Muhammad berpilar kokoh di atas prinsip keadilan, dan keadilan sosial yang didasarkan pada distribusi yang merata itulah yang menjadi inti dari semua ibadah ritual. Allah berfirman, " Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu." Allah dan RasulNya juga menegaskan bahwa sesungguhnya di dalam rezeki yang kita dapatkan, terdapat hak orang-orang miskin. Ketika terjadi ketimpangan sosial yang begitu besar pada zaman kekhalifahan Utsman bin 'Affan, salah seorang sahabat dekat Rasulullah yang lain, Abu Dzar, bangkit dan melakukan kontrol sosial yang menjadi penyebab kematiannya. Dia mengajak orang miskin untuk merebut haknya di tangan orang-orang kaya dan penguasa bahkan dengan pedang sekalipun.

Penyebab utama kemiskinan adalah distribusi yang tidak benar. Jika sekiranya pilar sosial agama diwujudkan dalam kehidupan sosial, ketimpangan tidak akan terjadi. Dalam hal ini, adalah tugas pemerintah untuk melakukan pengontrolan atas distribusi itu. Namun tentu saja, semua kelompok masyarakat punya peran masing-masing untuk mendukung dan mengontrol sistem sosial yang dijalankan oleh pemerintah itu.


Sebentar lagi, kita akan mengeluarkan zakat fitrah dan menjemput idul fitri. Keduanya adalah ritual yang mestinya bukan hanya sehari saja, tetapi seluruh waktu dalam hidup kita. Sejauh mana kedua ritual itu memberikan penekanan terhadap topik kita hari ini, akan kita sentuh lagi di pembahasan selanjutnya Insya Allah.
Dulu, Rasulullah Saw diriwayatkan tidak pernah makan kenyang di rumahnya. Ketika ditanya mengapa, Rasulullah Saw mengatakan "bagaimana mungkin saya bisa kenyang jika saya belum bisa memastikan bahwa semua ahlul suffah sudah makan?" Ahlul suffah adalah orang-orang miskin yang hidup di mesjid Nabawi, yang dijamin oleh "negara", dan diberi makan oleh "pemerintah."
23 Ramadhan 1428H

 
Mudik 09/20/2008
 

Disebutkan sayyidina 'Ali karamalahu wajhah pernah mengatakan bahwa hidup adalah sebuah perjalanan panjang, bahwasanya seluruh aktifitas hidup sejatinya adalah perjalanan kembali pulang ke asal. Hidup ini adalah perjalanan mudik.

Sudah lama kita meninggalkan kampung, sepanjang dan selama umur kita. Kita bahkan sudah tidak tahu bagaimana keadaannya. Yang paling menyedihkan adalah kita tidak punya bekal yang cukup untuk menempuh perjalanan, bahkan tidak tahu bagaimana keadaan kita sesampainya disana.

Kampung abadi adalah akhirat. Kesanalah perjalanan seluruh manusia bermuara. Banyak orang yang sampai disana, sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah Saw, bekal yang disiapkannya harus diberikan kepada orang lain sehingga dia akhirnya tenggelam dalam penderitaan abadi. Orang-orang itu, ketika pertama sekali datang kepada Allah Swt, mereka membawa banyak kebaikan sebagai bekal, tetapi ketika Allah Swt akan memberikan tempat yang baik untuknya, orang-orang yang pernah dizaliminya, disakiti hatinya, disiksa pisiknya, atau dianiaya, datang dan meminta pertanggungjawabannya sehingga seluruh bekalnya akan diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang telah dianiaya itu. Sayyidina 'Ali mengatakan, "bekal yang paling buruk di hari kiamat adalah berbuat zalim kepada sesama manusia."

Itulah kampung kita yang sebenarnya. Seharusnya kepulangan adalah perjalanan yang menyenangkan, yang ditunggu-tunggu waktunya, dan paling dipersiapkan dengan baik. Tetapi ada juga kepulangan yang tiba-tiba, tanpa persiapan dan tentu saja tanpa bekal. Yang pertama disebut pulangnya orang beriman, mereka akan dijemput oleh Rasulullah Saw dan para malaikat dengan senyuman; sementara yang kedua disebut pulangnya orang-orang durhaka.

Mendekati lebaran ini, kita sudah merencanakan mudik. Jauh-jauh hari kita sudah menabung dan menyisihkan rezeki untuk bekal, membeli tiket, dan menyiapkan oleh-oleh. Semuanya kita rencanakan dengan baik. Kita sudah tidak tahan untuk bertemu kembali dengan orang tua yang kita cintai, bahkan walau hanya kuburnya sekalipun. Kita sudah rindu untuk bertemu dengan saudara, keluarga dan handai taulan. Kepada mereka kita akan bawakan oleh-oleh yang terbaik yang bisa kita siapkan. Kita pulang ke kampung halaman karena kerinduan.

Karenanya, mudik ke kampung menjelang lebaran ini mestinya menjadi pelajaran, semacam latihan untuk pulang ke kampung abadi suatu saat nanti. Kita membutuhkan pulang kampung, kata Emha 'Ainun Najib, karena di kampunglah kita menemukan keteduhan, ketulusan orang-orang desa, kesederhanaan, kezuhudan yang tidak dibuat-buat, dan keikhlasan yang sederhana. Kota yang kita tempati selama ini telah mengajari kita untuk berpura-pura, memaksa kita menjadi pemangsa segala, menjadi opportunis, serba cepat namun gegabah, dan memaksa untuk selalu bersikap curiga. Kita butuh mudik agar kita bisa disegarkan kembali dari apa-apa yang sudah hilang di dalam hidup kita di kota. Dan yang paling penting adalah, kita belajar untuk mudik yang sesungguhnya.

Malam ini adalah malam kedua puluh tiga ramadhan, inilah malam laylatul qadr yang ketiga. Di dalamnya disuguhkan kemuliaan yang tidak ada di malam-malam yang lain. Marilah kita memanfaatkannya untuk mengumpulkan bekal dalam perjalanan, saat kita mudik nanti. Rasanya hati sudah tidak sanggup lagi menanggung kerinduan untuk bertemu dengan pemimpin kafilah ruhani, Muhammad al-Musthafa yang akan menyiapkan air kehidupan dari telaga al-Kautsar. Marilah kita mempersiapkan mudik bersama ke kampung abadi seperti kita menyiapkan mudik ke kampung lebaran nanti.

 
Mari Beribadah 09/20/2008
 

Di suatu pagi, 'Ali Zainal 'Abidin bin Husein rh, salah seorang cucu Rasulullah Saw, keluar dari rumahnya. Demi melihatnya, para sahabat dan tetangganya bertanya, "Hendak kemana wahai putra Rasul?" 'Ali Zainal 'Abidin menjawab, "Aku ingin keluar untuk memberi sedekah kepada keluargaku." Dengan heran para sahabat itu bertanya lagi, "Bagaimana mungkin engkau memberikan sedekah kepada keluargamu sendiri?" (Salah satu pesan Rasulullah Saw tentang para keluarganya adalah bahwa mereka tidak boleh menerima sedekah). 'Ali Zainal Abidin kemudian menjawab lagi, "Barangsiapa yang mencari rezeki yang halal untuk keluarganya, maka pemberiannya itu dihitung sebagai sedekah."

Suatu hari, sekelompok perempuan datang menemui Rasulullah Saw. Di antara mereka ada yang mengadu, "Ya Rasulullah, suami saya sudah tidak memperhatikan saya dan anak-anaknya, dia lebih banyak sibuk beribadah." Salah seorang ibu yang lain juga melaporkan, "suami saya tidak mau mencampuri saya lagi, di waktu malam dia menghabiskan malamnya untuk shalat saja." Langsung saja Rasulullah Saw menampakkan wajahnya yang kurang senang. Mereka disuruh pulang dan meminta suami-suami mereka menemui Rasulullah Saw. Ketika para suami itu datang, Rasulullah Saw memberikan pesan tegas kepada mereka yang kira-kira maknanya, "saya adalah seorang suami, saya juga seorang Bapak. Saya memberikan nafkah kepada anak dan istri, berkumpul dengan istri, dan bermain dengan anak-anak, tetapi pada saat yang sama saya juga masih punya waktu untuk beribadah dan munajat kepada Allah. Sesungguhnya semua aktifitas adalah ibadah jika kalian meniatkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kembalilah kepada keluarga kalian, dan saya tidak ingin lagi mendengarkan laporan mengenai istri dan anak-anak kalian yang terlantar."

Pada hakikatnya, ibadah adalah seluruh aktifitas manusia yang diawali dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Yang menjadikan sesuatu itu ibadah atau bukan adalah niat. Dari awal, Rasulullah Saw tidak pernah memisahkan urusan dunia dan urusan akhirat. Ketika kita pergi ke sawah, ke kantor, ke laut, atau mungkin meninggalkan keluarga di rumah beberapa waktu demi mencari nafkah yang halal, maka semua aktifitas itu adalah ibadah jika diniatkan jalan penghambaan kepada Allah.

Di tengah-tengah kita, ada sekelompok orang yang mengatasnamakan agama, lalu memisahkan antara dunia dan akhirat. Merekalah yang pantas disebut "sekuler." Dengan berbagai dalil, ibadah bagi mereka hanya ibadah mahdhah. Ilmu pun dibagi menjadi ilmu dunia dan ilmu akhirat dan kita diminta untuk mempelajari ilmu akhirat saja. Sayyidina 'Ali pernah mengatakan, "yang benar adalah kita menguasai dunia, bukan dikuasai oleh dunia."

Singkatnya, kita diminta untuk melakukan seluruh aktifitas kita dengan meniatkannya sebagai ibadah. Dalam konteks ini, tidak ada lagi pemisahan antara aktifitas duniawi dan ukhrawi selama itu adalah aktifitas yang benar di sisi Allah. Memberi nafkah adalah kewajiban, maka keluar dari rumah untuk mencari nafkah di jalan yang diridhai oleh Allah adalah juga ibadah. Dalam cerita yang lalu, Rasulullah Saw pernah mencium tangan seorang pemuda yang melepuh karena bekerja keras, dan Rasulullah Saw menyebutnya tangan pemuda surga.

Dua orang tukang batu sedang bekerja membangun dinding sebuah mesjid. Ketika ditanyai apa yang sedang mereka lakukan, tukang pertama hanya menjawab, "saya sedang menyusun batu bata untuk membangun dinding mesjid." Ketika pertanyaan yang sama ditanyakan kepada tukang kedua, dia dengan tenang menjawab, "saya sedang membangun tempat ibadah, mudah-mudahan bisa berguna bagi masyarakat di daerah ini. Dengan pekerjaan ini pula, saya bisa mendapatkan rezeki yang halal, yang dengan itulah saya bisa memberikan nafkah kepada keluarga dan menyekolahkan anak-anak saya agar mereka bisa mengenal Tuhan."

Mereka mengerjakan pekerjaan yang sama, tetapi tukang kedua bisa melakukan transformasi pekerjaannya ke posisi yang lebih tinggi di mata Allah. Kita juga mungkin seperti kedua tukang itu, tidak perduli kita menjadi kuli di sebuah perusahaan, seorang editor di sebuah media, pemimpin dari ratusan supir angkutan umum, atau bekerja untuk membantu masyarakat miskin, selama kita meniatkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka kita sudah melakukan transformasi dan spiritualisasi pekerjaan kita. Dan sejatinya, itulah hakikat ibadah.

 
Maka Menangislah 09/20/2008
 

Di dalam sebuah potongan adegan film, seorang ibu menangis ketika anaknya berhasil melewati masa kritis setelah menjalani operasi yang cukup menegangkan. Anaknya yang lain bertanya, "kok Bunda menangis? Bukannya harus berbahagia?" Dengan tenang sang Ibu menjawab, "Bunda menangis karena bahagia Nak! Dan nenekmu bilang, air mata bukan hanya membersihkan mata, tetapi juga melembutkan hati. Maka menangislah jika kamu punya alasan yang tepat untuk menangis, seperti Bunda sekarang."

Biasanya menangis diidentikkan dengan kecengengan, kelemahan, keputus-asaan. Seorang laki-laki yang menangis akan disebut "seperti perempuan." Jika ada seseorang menangisi kematian ibunya atau seseorang yang sangat dicintainya, biasanya ada orang lain yang mengaku memahami pesan Nabi akan melarang dan mengatakan, "jangan menangis, itu dilarang!" Kita sudah melarang orang untuk menangis, bahkan ketika orang itu memerlukan tangisan.

'Aisyah, salah seorang istri Rasulullah Saw, pernah menceritakan kebiasaan Rasulullah Saw. Katanya, itulah momen yang paling mempesona dari kehidupan Nabi. Rasulullah Saw bangun di tangah malam, mengambil wudhu, lalu melaksanakan shalat malam. Baru saja Rasulullah Saw sampai pada bacaan Alquran, beliau kemudian terisak-isak. Matanya bengkak karena menangis dan janggutnya basah oleh air mata. Itulah yang disebutkan oleh Allah, "Ketika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang Maha Pengasih, mereka rebah bersujud dan menangis. " (QS: 19:58)

Pernahkah kita menangis ketika kita mendengar ayat-ayat Allah dibacakan? Mungkin belum. Kita selalu diajari untuk sabar dan kuat, dan karenanya tidak boleh menangis. Tidak menangis dianggap sebagai bukti ketegaran dan kekuatan. Namun karena kita tidak pernah menangis, hati kita menjadi keras. Bahkan saat kita mestinya menangis ketika bersimpuh di hadapan Allah, saat memohon ampun atas dosa-dosa, kita hanya meminta ampun dalam kata-kata yang hambar, seperti menghapal kalimat-kalimat saja. Padahal, menurut Rasulullah Saw, salah seorang yang akan dilindungi oleh Allah di padang Mahsyar adalah seseorang yang air matanya tumpah di kesunyian malam karena ketakutan terhadap banyaknya dosa dan harapan akan ampunan dari Allah.

Maka marilah kita belajar menangis. Marilah kita menemui fakir miskin dan menangis setelah merasakan penderitaan mereka, bukankah Rasulullah Saw pernah menangis ketika melihat tangan Sa'ad bin Mu'adz yang memar karena memecah batu demi mencari nafkah yang halal? Mari kita menangis di kaki orang tua dan meminta maaf atas kesalahan yang telah kita lakukan. Hamburkanlah air mata saat mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, semampu kita. Dan tidak apa-apa kita menangis ketika kita kehilangan orang yang sangat kita cintai sebagaimana Rasulullah Saw menangis ketika anaknya Ibrahim meninggal dan ketika Ja'far syahid di medan perang.

Tangisan yang paling didambakan oleh Allah adalah tangisan penghambaan, maka marilah kita rebahkan wajah dan menangis mengharap ampunan Allah di waktu malam. Kita tidak perlu berdoa keras-keras dan menangis kencang-kencang dalam doa bersama yang disiarkan di televisi, atau yang dilakukan di tengah lapangan dengan pengeras suara. Biarlah tangisan kita menjadi milik kita dan Allah, bukankah karena Dialah kita menangis?

Mungkin kita sering menangis karena adegan sinetron atau film, tetapi kita tidak pernah bisa menangis di dalam shalat dan doa. Bukan ini yang diharapkan. Tangisan sejatinya adalah ekspresi ketakberdayaan di hadapan Allah, kerinduan dan pengharapan kepadaNya, atau empati kepada penderitaan fakir miskin dan kaum tertindas. Maka marilah kita mulai menangis di hadapanNya di sepuluh malam terakhir ramadhan yang tersisa ini. Dan jangan lupa menangis untuk rakyat Palestina yang dijajah Israel, rakyat Irak dan Afghanistan yang dipecah belah oleh Amerika dan sekutunya, serta rakyat Myanmar yang ditindas oleh junta. Ayo mulai malam ini.

 

 
 

Di dalam Sahih Bukhari, diceritakan latar belakang perjanjian Hudaibiyah pada tahun keenam hijriah. Pada waktu itu, kafir Quraisy mengirim utusan untuk melarang Rasulullah Saw dan para sahabatnya melakukan ibadah haji. Setelah perundingan yang agak panjang, lahirlah perjanjian yang sangat terkenal itu. Ketika kembali ke Makkah, Urwah al-Tsaqafi, salah seorang utusan Quraisy pada waktu itu menceritakan pengalamannya. " Demi Allah, saya sudah pernah menjadi utusan kepada Kaisar (Roma), Kisra (Persia) dan Najasyi (Afrika), tetapi saya belum pernah menemukan pengikut mengagungkan rajanya seperti para sahabatnya mengagungkan Muhammad. Demi Allah, jika Muhammad meludah, ludahnya akan selalu jatuh pada salah satu tangan sahabatnya, lalu dia akan mengusapkan ludah itu ke wajah dan kulitnya. Jika Muhammad memerintah, mereka akan akan berlomba-lomba melakukannya. Jika Muhammad berwudhu, mereka akan berdesakan untuk memperebutkan air wudhunya. Bila Muhammad berbicara, mereka akan merendahkan suaranya. Mereka semua menundukkan pandangan di hadapan Muhammad demi menghormatinya ."

Di dalam kitab Al-Targhib wal Takhib, terdapat cerita yang lain. Pada suatu hari ketika Rasulullah saw sedang berbincang-bincang dengan para sahabat­nya, seorang pemuda datang men­dekati Rasul sambil berkata, "Ya Rasulullah, saya men­cintai­mu." Lalu Rasulullah saw berkata: "Jika begitu, pergilah dan bunuh bapakmu!" Pemuda itu pergi untuk melaksana­kan perintah Nabi. Kemudian Nabi memanggilnya kembali dan berkata, "Aku tidak diutus untuk menyuruh orang berbuat dosa." Aku hanya ingin tahu, apa betul kamu mencintai aku dengan kecintaan yang sesungguhnya?"

Rasulullah Saw adalah insan kamil, manusia sempurna yang dipilih oleh Allah sebagai pembawa risalah terakhir. Dia dijaga kesuciannya ketika Allah menjamin, " dan tiadalah yang diucapkan (dan diperbuatnya) itu menurut kemauan hawa nafsunya, semua itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya" (QS. 53:3-4). Dialah satu-satu Rasul yang diberi nama oleh Allah dengan dua namaNya sekaligus, Raufur Rahim.

Sayang, sepertinya kita mulai melupakannya. Jika kita mengetahui semua hal-hal kecil tentang penyanyi pujaan, berbahagia di hari lahirnya dan berduka di hari meninggalnya, kita tempel gambarnya di kamar, kita nyanyikan lagunya setiap saat; tetapi pada saat yang sama kita bahkan tidak tahu kapan Rasulullah Saw meninggal, atau siapa saja anak-anaknya. Ketika kita merayakan kebahagiaan di hari lahir Rasulullah Saw, banyak yang menuduh kita melakukan bid'ah. Ketika kita menangis di medjis Nabawi, polisi penjaga sudah siap dengan pentungan. Kita bahkan tidak tahu bagaimana mengirimkan shalawat dengan benar untuk Rasulullah Saw. Kita jauh lebih tahu detail sejarah Indonesia, atau sejarah Sultan Hasanuddin dibanding sejarah hidup Rasulullah Saw dan orang-orang dekatnya. Dan mungkin jika kita mengulang-ulang hadits Bukhari di atas, banyak orang akan menuduh kita kultus individu.

Bagaimana mencintai Rasulullah Saw? Cintailah Rasulullah Saw dengan cara Anda yang biasa dalam takaran yang lebih tinggi. Rasulullah berpesan, " Tidak dikatakan beriman seseorang diantara kamu sebelum ia mencintai aku lebih daripada mencintai anaknya, orangtuanya, dan manusia semuanya." Sebutlah namanya dan kirimkanlah shalawat sebanyak-banyaknya. Rasulullah bersabda, " Orang yang paling bakhil adalah orang yang ketika mendengar namaku disebut tetapi dia tidak mengucapkan shalawat untukku."

Cintailah keluarga Rasulullah Saw dan orang-orang yang dicintainya. Rasulullah Saw berpesan, " Fatimah adalah belahan jiwaku, siapa yang menyakiti Fatimah berarti menyakitiku; siapa yang membuatnya marah, dia juga membuatku marah." Ketika memeluk Hasan dan Husayn, dua orang cucunya, Rasulullah Saw berdoa, " Ya Allah, aku mencintai keduanya, maka cintailah orang yang mencintai keduanya." Di dalam Sunan Daruqutni Rasulullah Saw mengatakan, "siapa yang shalat dan tidak membaca shalawat kepadaku dan keluargaku, tidak akan diterima shalatnya ." Rasulullah juga menekankan, "siapa yang bershalawat kepadaku tetapi tidak bershalawat kepada keluargaku, maka shalawatnya itu terputus."

Kecintaan kepada Rasulullah Saw juga dibuktikan dengan mencintai apa saja yang berhubungan dengannya. Dan tentu saja, kecintaan kepadanya harus diwujudkan dengan mengikuti sunnahnya, mencintai fakir miskin, dan memperlakukan siapa saja dengan akhlak mulia!

16 Ramadhan 1428H

 
 

Teknologi saat ini sudah sangat memudahkan, bahkan menyentuh wilayah aktifitas keagamaan. Contohnya, bersedekah bukan lagi hal rumit. Jika malas keluar dari rumah, sedekah bisa dilakukan dengan mengirim SMS saja melalui operator telpon bergerak yang digunakan, bahkan dari kamar mandi sekalipun. Jika takut ke tempat-tempat kumuh mencari fakir miskin yang akan disedekahi, atau takut ditipu oleh orang yang berpura-pura miskin, silahkan datang ke ATM dan transferlah sejumlah uang ke rekening yang sudah disiapkan oleh bank masing-masing.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan. Kemana uang itu diserahkan? Lalu siapa yang memastikan bahwa uang yang diniatkan sedekah itu benar-benar sampai ke tangan orang yang berhak? Dimana diserahkannya? Ada yang mengatakan bahwa jika kita sudah meniatkan untuk bersedekah, adalah tanggung jawab pengurus untuk menyampaikannya. Jika mereka tidak melakukan sebagaimana mestinya, itu urusan mereka sendiri dengan Tuhan.

Sesungguhnya sedekah adalah sebuah komitmen pendistribusian hak-hak kaum miskin secara benar yang diambil dari harta orang-orang berpunya.Tuhan mengatakan, "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." Oleh karena itu, semua orang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa distribusi itu diberikan kepada yang berhak. Rasulullah Saw sendiri mencontohkan pemberian sedekah langsung kepada orangnya.

Lalu bagaimana dengan sedekah lewat SMS atau ATM itu? Tuhan mengajarkan bahwa kita harus "menjaga diri dan keluarga dari api neraka ." Pada hakikatnya, neraka adalah segala jenis penderitaan. Kemiskinan, baik kemiskinan material lebih-lebih kemiskinan batin, juga adalah neraka. Kita diminta oleh Tuhan untuk menyelamatkan diri dan keluarga kita "terlebih dahulu" dari neraka-neraka itu. Dengan demikian, dalam konteks ini, ketika memberikan sedekah, kita mestinya "mendahulukan" orang-orang miskin dari lingkaran keluarga dan tetangga miskin yang ada di sekitar kita.

Selain itu, sedekah yang diserahkan secara sentralisasi cenderung didistribusikan tersentralisasi juga. Lalu kapan orang-orang miskin yang ada di pinggir mendapatkan distribusi yang sama? Jika sedekah diserahkan semua ke Jakarta, kapan orang-orang pelosok Papua mendapatkan hak yang sama? Ketika ditanya kemana menyerahkan zakat fitrah, saya biasanya memilih penerima sendiri dan menyerahkannya secara langsung.

Malam itu hujan turun sangat lebat. Ja'far ash-Shadiq, salah seorang cucu Rasulullah Saw keluar dari rumahnya dan menggendong sebuah karung besar berisi roti menuju perkampungan miskin Bani Saidah di pinggir kota Madinah. Mu'alla bin Khunais, salah seorang sahabatnya yang membuntuti dari belakang, menawarkan diri untuk membantunya membawa karung itu. Dengan sopan Ja'far ash-Shadiq menolak, "saya lebih layak melakukan pekerjaan ini." Mereka berdua kemudian membagi-bagikan roti kepada orang-orang miskin yang sedang tidur malam itu. Ja'far ash-Shadiq membagikan roti langsung kepada orang-orang miskin yang dikenalnya, tinggal tidak jauh dari rumahnya, dan dalam keadaan diam-diam.

15 Ramadhan 1428H

 
Agama Akhlak 09/20/2008
 

Suatu waktu, Rasulullah Saw sedang bercerita bersama dengan sahabat-sahabatnya di mesjid Nabawi. Ketika para sahabat sedang asyik mendengarkan pengajaran dari Rasulullah, lewat sekelompok orang yang mengusung mayat di atas keranda. Ketika rombongan itu melintas, Rasulullah Saw berdiri dan menundukkan badan memberi isyarat penghormatan. Namun, beberapa sahabat justru mengeluarkan kata-kata yang tidak enak dan mengeluarkan ludah tanda celaan. Rasulullah Saw kemudian bertanya kepada para sahabat mengapa mereka melakukan itu. Para sahabat menjawab, "mayat itu adalah orang Yahudi yang buruk sifatnya." Dengan wajah gusar Rasulullah Saw memberikan nasehat bahwa orang itu sudah meninggal dan mestinya diperlakukan dengan baik, "jika kalian tidak bisa menghormatinya karena dia seorang Yahudi, maka hormatilah dia sebagai manusia," demikian sabdanya.

Rasulullah Saw adalah seorang pembawa risalah yang terkenal memperlakukan orang dengan akhlak yang mulia. Walaupun benci karena ajaran Rasulullah Saw bertentangan dengan keyakinan yang mereka anut, orang-orang Quraisy tidak punya alasan untuk mencelanya. Sebelum diangkat sebagai pembawa risalah, Muhammad adalah seorang pemuda yang dijadikan teladan oleh orang-orang Makkah, bahkan menjadi penengah dalam sengketa antar suku karena kebaikan budinya.

Muhammad Saw adalah utusan yang mendeklarasikan misinya sebagai penyempurna akhlak. Dia diutus sebagai rahmat bagi semesta. Dia mendoakan orang-orang Thaif ketika mereka melemparinya dengan batu. Dia membalas keburukan orang kafir dengan perbuatan baik. Dia mencintai anak-anak dan menghormati budak-budak. Dialah yang berpesan tentang keharusan memperlakukan perempuan dengan seadil-adilnya. Sejarah, kata ulama, tidak mampu melukiskan keluhuran budinya. Ketika ditanyai siapa yang paling dicintai dan paling dekat kepadanya, beliau bersabda, "orang yang paling baik akhlaknya"; dan ketika ditanya siapa orang yang paling dibencinya, beliau menjawab, "orang-orang yang pongah, sombong, dan takabbur."

Rasulullah Saw diriwayatkan bertanya kepada 'Abdullah ibn Mas'ud. "Wahai Ibn Ummi 'Abd, tahukah kamu mukmin yang paling utama imannya?" Ibn Mas'ud menjawab, "Allah dan RasulNya yang lebih tahu." Kemudian Rasulullah bersabda, "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya, yang lemah lembut dan tidak pernah menyakiti orang lain. Seseorang tidak akan pernah mencapai hakikat iman sebelum dia mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri, dan sebelum tetangganya aman dari gangguannya."

Agama Muhammad Saw adalah agama akhlak dan kitab Alquran adalah petunjuk kepada akhlak yang mulia. Itulah karenanya ketika menjelaskan akhlak Rasulullah Saw, istrinya, Aisyah, hanya bisa meringkas dengan kalimat, "akhlaknya adalah Alquran." Dan jika kita mengaku pengikutnya, semestinya ketika mengikuti akhlaknya.

13 Ramadhan 1428H

 
Kepasrahan Total 09/20/2008
 

Pada suatu malam, ketika kegelapan sudah menyelimuti kota Madinah, Rasulullah Saw bangun dari tidurnya untuk melakukan munajat. Beliau tenggelam dalam doa sehingga wajahnya basah oleh airmata. Beberapa waktu kemudian, istrinya, Ummu Salamah, terbangun juga dan tidak menemukan Rasulullah di tempat tidur. Ummu Salamah akhirnya menemukan Rasulullah berdiri di ruangan yang gelap dengan isak tangis seraya mengangkat tangannya dan memanjatkan doa :

"Ya Allah, janganlah Engkau ambil dariku nikmat-nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku. Janganlah Engkau jadikan diriku sebagai cercaan musuh dan janganlah Engkau biarkan diriku terjatuh ke dalam kekuasaan orang-orang yang iri terhadapku. Ya Allah, janganlah Engkau kembalikan diriku kepada keburukan dan hal-hal makruh yang telah Engkau selamatkan diriku daripadanya. Janganlah Engkau pasrahkan aku pada diriku sendiri walau sekejappun, dan peliharalah aku dari segala marabahaya dan berbagai penyakit ."

Mendengar doa itu, Ummu Salamah tidak bisa menahan air mata. Mendengar istrinya menangis, Rasulullah kemudian menghampirinya dan menanyakan apa yang telah terjadi. Ummu Salamah mengatakan, "Ya Rasulullah, tangisan dan doamulah yang telah membuatku menangis. Jika engkau saja, dengan kedudukanmu yang sangat tinggi di sisi Allah merasa khawatir dan memohon kepadaNya agar tidak meninggalkanmu walau sekejap mata, lalu bagaimana dengan hamba yang banyak dosa ini?" Rasulullah menjawab, "Wahai Ummu Salamah, bagaimana mungkin aku bisa yakin dengan nasib dan kesudahan hidupku, sementara Yunus as yang yang ditinggalkan oleh Tuhan sekejap saja, akhirnya tertimpa bencana yang semestinya tidak dialaminya."

Kadang-kadang kita merasa begitu kuat dan mampu melakukan apa saja. Sering kita mengatakan bahwa kesuksesan yang kita raih, rezeki dan apa saja yang kita miliki, adalah karena kerja keras kita sendiri. Pada kondisi ini, dengan sombongnya kita melupakan tangan Tuhan yang kita anggap tidak berperan dalam pencapaian itu. Yang paling buruk lagi, karena klaim ini, kita tidak mau membagi rezeki kita dengan fakir miskin.

Memang ada diskusi teologis yang panjang dalam masalah ini, dan bukan maksud kita untuk menyentuhnya disini. Akan tetapi, mungkin kita bisa sederhanakan dengan mengutip firman Allah, "sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya." Dalam pandangan filsafat wujud, ke-ada-an kita adalah maujud yang memiliki keterikatan eksistensial dengan Allah, tidak bisa terlepas. Bagaimana mungkin kita bisa mandiri, sementara meng-ada saja kita tergantung kepada Yang Maha Ada?

Karenanya, Rasulullah menegaskan kembali pengakuannya terhadap keterikatan itu dalam munajat di atas. Beliau mengajarkan kita untuk tidak sombong di hadapan Allah, pemilik seluruh kesempurnaan. Kita membutuhkan penyerahan total kepada Allah yang menjadi karakteristik mendasar orang-orang bertakwa. Dan untuk itulah kita harus berpuasa.

Ya Allah, jangan Engkau biarkan kami mengurus diri sendiri walau sekejappun.

10 Ramadhan 1428H

 

    Link

    Catatan Kecil

    Ramadhan 1429

    Catatan

    Tulisan ini dibuat untuk diposting di milis Panyingkul pada ramadhan 1428H