Untuk mengisi acara bulan puasa, stasiun televisi berlomba-lomba membuat program dan acara. Sayangnya mereka lebih tepat disebut berlomba membuat lawakan daripada membuat acara religius. Lihat saja acara televisi di saat sahur, hampir semuanya acara lawak. Jikapun ada ceramah para Ustadz, mereka akan menjadi sisipan sebagai pelengkap saja.  

Salah satu acara televisi di bulan puasa yang saya suka adalah Ensiklopedia Islam di salah satu stasiun televisi nasional. Dulu acara ini diisi dengan menghadirkan beberapa cendekiawan yang memberikan penjelasan topik-topik yang sedang dibahas. Karena latar belakang para cendekiawan itu beragam, para penonton bisa menyimak topik dengan berbagi sudut pandang. Dengan demikian, pemirsa diberikan pengayaan yang multi perspektif, model pendidikan yang sedang digalakkan sekarang ini.  

Namun, saya merasakan sesuatu yang lain dengan acara ini sekarang, setidaknya sampai hari ketujuh ramadhan. Sampai hari ini, acara yang mengambil tema utama "Indahnya Shalat" diisi oleh seorang Ustadz yang sangat terkenal. Beliau dikenal sebagai ahli dalam cara memperoleh shalat khusyuk. Di acara ini juga disiapkan model yang memperagakan cara shalat dan dibimbing sendiri oleh Ustadz agar gerakan-gerakan itu bisa memberikan kenikmatan yang mengantarkan ke khusyu'. Sebuah penjelasan yang komprehensif saya kira. Tetapi ada saja yang saya rasakan lain.  

Perasaan yang lain ini lahir tentu bukan karena acaranya hanya diisi oleh seorang Ustadz saja, tetapi bentuk kajiannya. Di acara ini dijelaskan gerakan-gerakan shalat secara detail. Katanya, dengan mengikuti gerakan-gerakan ini, akan memudahkan seseorang untuk merasa khusyu'. Bagi saya, mungkin ada yang harus dijelaskan lebih detail. Belajar dari buku pedoman dan khasiat gerakan shalat yang banyak beredar, saya khawatir banyak orang yang berkesimpulan bahwa rasa khusyu' diperoleh dengan ("hanya") memperbaiki gerakan shalat.  

Yang saya ingat, Nabi pernah mengatakan bahwa shalat adalah mi'rajnya kaum mukmin. Menerjemahkan mi'raj, apalagi dihubungkan dengan mi'rajnya Nabi ke Sidhratul Muntaha, tentu tidak berbicara tentang sesuatu yang bersifat pisik. Mi'raj akan lebih tepat dilekatkan kepada sifat ruhaniah. Mungkin karena itulah, ketika seorang ulama besar abad ini menulis tentang rahasia shalat, beliau memberinya judul "Mi'raj Ruhani." Dengan demikian, shalat bukanlah "melulu" urutan gerakan, tetapi shalat adalah proses "pertemuan" manusia dan Tuhan. Berbicara lebih jauh masalah ini, sifat-sifat pisik akan semakin kita tinggalkan.  

Kualitas shalat memang diukur dengan tingkat khusyu'. Akan tetapi, karena sifatnya sangat subjektif, maka khusyu' sangat susah dijelaskan. Para ulama masing-masing sudah memberikan defenisi dan cara mencapainya, tetapi kekhusyu'an masing-masing orang akan sangat personal. Selain itu, para ulama juga percaya bahwa khusyu' lebih berifat ruhaniah, bukan tergantung kepada gerakan. Khusyu' adalah perasaan, tepatnya capaian; bukan laku pisik. Maka membahas topik kekhusyu'an shalat dengan membedah gerakan-gerakan di dalamnya menimbulkan kekhawatiran bagi saya.  

Setidaknya saya punya dua alasan untuk itu. Pertama, gerakan shalat sebenarnya adalah hukum-hukum fiqh. Artinya, gerakan shalat sangat mungkin berbeda menurut fiqh apa yang kita anut. Jika demikian keadaannya, maka praktis perubahan gerakan shalat itu akan mempengaruhi efeknya pada tubuh. Tentu saja kita percaya bahwa setiap gerakan shalat ada efek fisiknya, tetapi shalat bukanlah gerakan yoga (saya baru melihat sebuah buku yang menjelaskan efek-efek yoga dalam shalat). Dengan demikian, beda fiqh shalat akan menghasilkan efek khusyu' yang berbeda. Yang kedua, dan ini yang lebih utama, gerakan shalat shalat bisa berubah karena kondisi. Orang yang sakit misalnya, bisa saja shalat dengan berbaring, bahkan tanpa gerakan sama sekali. Dengan demikian, jika kekhusyu'an "tergantung" atau dipengaruhi oleh gerakan pisik, maka orang sakit atau orang cacat akan merasakan khusyu' yang berbeda dengan orang yang pisiknya sempurna. Benarkah demikian? Saya menjawab tidak! Sekali lagi, jika shalat dianggap sebagai "pertemuan" antara manusia dan Tuhannya, maka kenikmatan pertemuan itu tidak akan dipengaruhi oleh gerakan.

Kenikmatan pertemuan itulah sebenarnya yang mestinya menjadi ukuran khusyu'. Bukankah mi'raj Nabi adalah pertemuannya dengan Tuhan?   Tentu pandangan ini tidak menafikan fiqh dan gerakan shalat, tapi shalat mestinya diposisikan kembali kepada hakikatnya sebagai mi'raj kaum mukmin. Saya juga tidak akan mengatakan bahwa pembedahan gerakan-gerakan shalat itu bid'ah karena tidak ada dasarnya di dalam Alquran dan hadits. Saya hanya ingin menekankan bahwa shalat hakikatnya adalah ruhani, bahwa shalat adalah penghambaan yang ikhlas, tulus, dan tanpa syarat. Gerakan tentu wajib seperti kata hukum fiqh, tetapi mencapai hakikatnya, yang terlepas dari gerakan-gerakan itu, yang ruhani, yang spiritual, jauh lebih penting! Selain itu, ada hal lain yang harusnya kita garis bawahi. Kata Tuhan dan Nabi, jika shalat belum mencegah kita dari kekejian dan kemungkaran, maka shalat kita bukanlah shalat. Jadi masih adakah shalat tanpa bakti tulus kepada sesama?  

Selamat menunaikan ibadah puasa.  

Salam, Mustamin al-Mandary

7 Ramadhan 1429H

 
Allahu akbar 09/04/2008
 

Salamun 'alaykum...  

Allahu akbar. Allah Maha Besar. Inilah kalimat yang setiap saat kita bisa dengar. Mulai dari ucapan pelan, langgam indah di dalam lantunan azan, sampai teriakan yang mengelegar. Bahkan sesekali menyerupai suara halilintar.   Dulu paling sering kita mendengar kalimat ini di mesjid saat shalat berjamaah, atau panggilan dari mesjid dan azan radio menjelang waktu shalat. Tetapi sekarang kita sering mendengarnya di keramaian, yang terekam di televisi maupun yang kita dengar langsung di pinggir jalan.  

 Allahu akbar sekarang paling sering terdengar dari pengeras suara, tetapi bukan yang berada di puncak menara. Allahu Akbar justru paling sering kita dengar dari pengeras suara portable maupun pengeras suara canggih yang disusun bertumpuk-tumpuk untuk menghasilkan suara yang lebih besar dan menyentak. Lantunannyapun tidak seindah panggilan kepada Tuhan, atau minimal seperti rintihan penghambaan. Allahu Akbar sudah menjadi teriakan khas, yang dipekikkan bersama-sama seperti koor paduan suara. Pekikan khas ini tidak kita dengar di surau dan mesjid, tidak pula saat idul adha dan idul fitri.  

Beberapa waktu yang lalu, Allahu Akbar diteriakkan ketika sekelompok orang merusak dan membakar sebuah rumah ibadah: mesjid!, padahal Baginda Nabi pernah melarang untuk merusak rumah ibadah orang lain. Beberapa tahun lalu, sebuah pesantren juga diserang dan dibakar dengan diiringi teriakan Allahu Akbar, padahal disana banyak anak-anak sedang menuntut ilmu. Masih segar beberapa bulan yang lalu, beberapa orang terluka akibat serangan dari orang-orang bergamis yang meneriakkan Allahu Akbar, padahal di antara mereka banyak anak-anak dan perempuan. Bukankah baginda Nabi melarang menyentuh anak-anak dan perempuan bahkan di dalam peperangan sekalipun? Dan di bulan ramadhan seperti ini, di beberapa tempat ada sekelompok orang yang merusak milik orang lain, karena dianggap tidak menghormati orang yang sedang puasa, juga dengan teriakan Allahu Akbar. Tidak terbayangkan, orang-orang yang hartanya dirusak ini akhirnya akan merana, dan anak-anaknya akan kesusahan bahkan hanya untuk mendapatkan sepiring makanan di ramadhan yang semestinya mereka bersuka cita. Dan mungkin sebagai contoh tambahan, Allahu Akbar diteriakkan sambil merusak pagar dan fasilitas milik rakyat, melempari rumah, mengganggu aktifitas orang lain, memutus rejeki orang lain, menganiaya orang kecil, dan lain-lain.  

Tuhan telah kita turunkan ke bumi. Kebesaran Tuhan kita kecilkan dengan mengebirinya di pinggir-pinggir jalan, di ujung pengeras suara dan tindakan penghakiman yang sering kelewatan. Tuhan kita agungkan dengan mengajaknya berbuat kerusakan, padahal Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Lalu kita dengan bangga mengatakan, kita berjuang mencegah kemungkaran. Lalu dimanakah keMahaLembutan Tuhan yang tiada tara itu? Dimana akhlak Nabi yang indah itu?  

Salah seorang cucu Nabi pernah berkata, jika seandainya kita melafalkan Allahu Akbar, sesungguhnya kebesaran Tuhan yang kita bayangkan menyertai ucapan itu sungguh sangat jauh dari apa yang bisa kita pikirkan. Dan sepertinya, kita telah melipatgandakan jarak antara ucapan Allahu Akbar kita dengan kebesaran Tuhan yang sebenarnya. Ya Allah, kami memang tidak akan pernah bisa membesarkanmu seperti mana Engkau harusnya disembah, maka maafkanlah kejahilan dan kesombongan kami.  

Selamat berpuasa.  

Salam, Mustamin al-Mandary

 
 

Salamun 'alaykum....
 
Kemarin adalah permulaan bulan Ramadhan. Sejak sebulan yang lalu, mimbar-mimbar sudah ramai oleh petuah khatib dan penceramah perihal datangnya bulan mulia ini. Demikian juga di surat kabar dan televisi. Para ustadz menyerukan ummat untuk menyiapkan diri, menyambut, memasuki dan mengisi ramadhan yang suci.
 
Kemarin, selepas shalat dzuhur di mushalla, ada juga kultum dari seorang Ustadz yang mukarram. Isinya sama dengan yang sudah sering kita dengarkan. Isinya tidak jauh dari perihal yang halal dan haram, yang boleh dan dilarang ketika puasa sedang kita jalankan. Karena pesannya sama dan seragam, sampai-sampai isinya bisa kita ingat di luar hafalan.
 
Tentu saling menasehati dalam kebaikan adalah perintah Tuhan. Bahwa di bulan Ramadhan sangat dianjurkan shalat malam. Bahwa berpuasa adalah kewajiban yang mendatangkan kemenangan di sini dan di hari kemudian. Bahwa satu kebaikan di bulan ini akan dilipatgandakan. Bahwa di bulan ini ada malam seribu bulan, maka didalamnya sangat dianjurkan memperbanyak amalan salihan.
 
Tetapi kemudian semua orang disuruh menghitung kebaikan, seperti menghitung biji dengan perkalian. Kita diajari menghitung-hitung amalan sehingga lupa pada hakikat tujuan. Seolah-olah ibadah adalah bilangan, dan derajat disisi Tuhan dinilai dengan penjumlahan. Maka orang berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk "memperkaya" diri sendiri tetapi lupa kepada orang lain yang berkekurangan.
 
Jarang sekali saya mendengar bahwa ramadhan adalah bulan kasih sayang. Rasulullah padahal pernah bilang, bulan puasa adalah bulannya fakir miskin dan anak yatim. Di bulan ramadhan semestinya kita mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mencintai orang lain, khususnya fakir miskin. Sayangnya kita lebih banyak disuruh mengaji kitab suci daripada "mengaji" kondisi sosial; kita mengungkung Alquran pada sebuah kumpulan kertas saja. Jarang pula kita mendengar bahwa amalan yang justru sangat dianjurkan, tentu selain shalat malam dan amalan lainnya, adalah memberi sedekah sebelum berbuka, memberi buka puasa kepada kaum miskin dan musyafir, dan yang tak kalah penting adalah mendoakan orang-orang yang kesusahan di akhir malam selepas shalat tahajjud.
 
Hakikat puasa adalah menjadi miskin: kita memiskinkan nafsu dan kecenderungan jasadi agar bisa mencerap cinta kasih. Cinta mensyaratkan "yang lain" di luar diri sendiri, karena jika kita mencintai diri sendiri maka kita terperangkap ke dalam egoisme. Untuk itulah Tuhan mengirimkan orang lain untuk kita cintai: orang tua, keluarga, saudara, anak-anak, tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan tentu saja lingkungan dan alam. Tuhan yang memang harusnya menjadi muara cinta kasih, tetapi "takaran" kecintaan kepada Tuhan hanya bisa "diukur" dengan kecintaan kepada orang lain.
 
Maka marilah kita mengisi ramadhan dengan berjuang memperkaya hati dengan kasih kepada sesama. Jika kita mencintai orang tua, istri, anak, itu hal yang wajar. Tetapi jika kita mencintai orang lain, itu baru disebut cinta tak bersyarat. Inilah jalan yang cepat menuju Tuhan. Dengan hadirnya ramadhan, marilah kita berlomba-lomba memperhatikan orang lain, membantu mereka yang kekurangan, memberi makan bagi mereka yang tidak mampu, melayani anak yatim, dan mengisinya dengan doa untuk kebaikan orang lain. Kebahagiaan orang lain karena kebaikan kita padanya jauh lebih baik daripada shalat yang kita hitung-hitung pahalanya.
 
Selamat berpuasa.

(2 Ramadhan 1429H)

 
First Post! 09/02/2008
 
Start blogging by creating a new post. You can edit or delete me by clicking under the comments. You can also customize your sidebar by dragging in elements from the top bar.