Perjalanan Panjang....

Saya lahir di Buttulamba, sebuah desa terpencil di daerah Polewali, Sulawesi Barat, pada tanggal 9 Nopember 1974. Sebelumnya daerah ini masuk wilayah Sulawesi Selatan. Tetapi pada bulan Oktober 2004, daerah ini masuk wilayah Sulawesi Barat setelah Pemerintah Indonesia mengesahkan pembentukan provinsi ketiga puluh tiga di Indonesia tersebut.

Saya dilahirkan dari sebuah keluarga yang sangat sederhana, sebuah keluarga yang memiliki lima anak laki-laki dan lima anak perempuan. Saya adalah anak kesembilan. Setelah saya lahir lagi dua orang adik perempuan, sayangnya anak kesepuluh meninggal setelah sempat bersama kami tiga hari saja. Bapak kami hanyalah seorang petani penggarap yang tidak punya tanah, sementara Ibu memiliki pekerjaan yang lebih besar lagi, menjaga kami anak-anaknya. Namun, dengan kehidupan yang serba sederhana itu, dengan ketulusan dan kerendahan hati, orang tua kami berhasil membesarkan kami menjadi manusia.

Saya kemudian menghabiskan masa kecil saya di Buttulamba. Saya masuk sekolah dasar, SD Inpres 044 Buttulamba, pada tahun 1980 ketika saya hampir berumur enam tahun. Pada saat itu saya sebenarnya belum bisa diterima karena syarat minimum masuk SD harus berumur tujuh tahun. Tetapi karena tidak ada Kelompok Bermain ataupun Taman Kanak-Kanak di desa saya, maka saya diikutkan belajar dengan syarat tidak didaftar sebagai siswa. Saya hanya mengikuti kelas untuk bermain dan bukan untuk “belajar” sebagaimana siswa-siswa yang lain. Saya tentu saja masih bisa ikut aktifitas kelas lainnya, tetapi kegiatan saya tidak akan dimasukkan ke dalam laporan sekolah: tidak ada ujian, tidak ada penilaian, tidak ada rapor, dan lain-lain.

“Celakanya” saya menjadi murid terbaik di kelas satu. Pada ujian catur wulan pertama, saya mendapatkan “nilai” terbaik. Syukurnya, “kecelakaan” ini mendorong pihak sekolah untuk menerima saya saja, toh saya bisa belajar dengan baik katanya. Saya kemudian “merusak” peraturan karena bersekolah walaupun belum cukup umur. Akhirnya saya secara resmi bergabung dengan anak-anak kelas satu lainnya pada waktu itu.

Pada tahun 1982 ketika saya baru dua bulan di kelas tiga, ada sekitar dua puluhan siswa kelas empat dari SD 021 Bunga-Bunga yang ingin pindah ke sekolah kami. Alasannya, tempat tinggal mereka lebih jauh ke sekolah mereka saat itu dibanding ke sekolah kami. Sayangnya, pada waktu itu belum ada kelas empat di sekolah kami karena murid tertua saja baru kelas tiga. Pihak sekolah kemudian melakukan pendekatan kepada departemen pendidikan. Dan hasilnya, sekolah kami bukan hanya diizinkan menerima siswa-siswa kelas empat itu, tetapi bisa menaikkan siswa-siswa yang baru naik kelas tiga dua bulan ke kelas empat dengan persyaratan yang ketat. Izin itu diberikan agar kelas empat bisa memiliki siswa minimal tiga puluh orang. Dan cerita baiknya adalah, saya termasuk di antara siswa kelas tiga yang dinaikkan ke kelas empat pada waktu itu. Begitulah ceritanya sehingga saya bisa menyelesaikan SD hanya lima tahun yang mestinya enam tahun. Karenanya, saya menyelesaikan pendidikan saya dari sekolah tersebut pada tahun 1985.

Di SD inilah saya mengenal teman-teman sekolah pertama saya. Saya punya teman-teman gadis yang cantik dan baik, bisalah dibayangkan masa-masa ranum mereka yang indah. Ada Asmawati yang juga dekat rumah saya, Suhrah, Ratnawati, Hasnawiyah dari Tabone yang setiap marah dia selalu menggertak sambil bilang "kubawakakko piso sondang (nanti saya bawakan kamu parang pendek)", Karlina, Rada (yang kemudian menikah ketika kelas empat), Jarah yang mengundurkan diri di kelas enam, dan lain-lain yang sudah saya lupa namanya ketika saya menulis catatan ini. Disini pula saya punya teman-teman laki-laki yang baik, Sudirman (yang pernah kutinju mukanya di kelas enam karena selalu mengejek), Hamkan yang kurus, Suardi (hehe, kakak saya sendiri), Junaid yang sudah menjadi Ustadz, Sahabuddin yang pernah mencret di sekolah sampai dipanggil tiburru' atau si mencret, Yusuf, dan yang tak kalah heboh adalah Bustamin. Namanya mirip nama saya. Lebih dari itu, Bustamin menjadi saingan saya yang paling berat dalam menyanyikan lagu-lagu Rhoma Irama yang terbaru. Di semua kelas kami bersama-sama dari kelas satu sampai kelas enam, Bustamin juga selalu membayang-bayangi nilai rapor saya, dia selalu berada di posisi kedua. Saya juga kadang berfikir, apakah mungkin karena kami sama-sama menyukai Rhoma Irama pada waktu itu?

Bersama Wati lah kemudian saya ke Pamboang untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Setamat SD, Wati, yang orang tuanya memang tinggal di Pamboang, mengajak saya untuk sekolah di sana. Untungnya, kakak saya, Nasirah yang juga menetap di Pamboang, memang menginginkan saya mengikuti keluarganya. Saya ingat sekali, ketika itu saya sedang membantu orang tua menjemur kelapa (untuk kopra) di lapangan kecil di belakang rumah kami di Bunga-Bunga saat Wati datang ke rumah memberitahukan bahwa dia akan berangkat ke Pamboang besok pagi. Setelah rembuk singkat, Pua dan Kindo akhirnya setuju. Besoknya saya ke Pamboang bersama Wati, hanya berdua walaupun kami masih sangat kecil dan cukup "riskan" pergi tanpa ditemani orang dewasa. Dan singkat cerita, pada bulan Juni 1985, kami berdua resmi menjadi siswa-siswi SMP Negri Pamboang. Sayangnya, kami sudah harus pisah kelas, saya di kelas IC dan Wati di kelas IA.

.......berlanjut....... (terakhir diperbaharui, 6 Maret 2008)